Semua Orang Butuh 'Penggembira'
10:13 pm
Hujan...
Untuk kesekian kalinya bulan September dipeluk hujan. Ada yang menggerutu, ada yang kesal, ada yang
gelisah, bahkan ada yang bahagia karnanya. Untuk kesekian kalinya juga saya
merasa menyesal, lagi lagi mantel kuning pemberian mama ketinggalan dirumah.
Ujungnya-ujungnya? Ya saya kesal sendiri.
Hujan kali ini saya boleh merasa bersyukur. Karna tidak kebasahan, ada tempat
berteduh. Kebetulan saat itu saya sedang berada disebuah pusat perbelanjaan
yang ramai dikunjungi di kota medan, Medan Fair. Persis ketika saya hendak
pulang, dan gyur hujan datang beramai-ramai tanpa permisi.
Sebenarnya saat itu saya bisa saja menerobos hujan seperti biasa.
Berbasah-basahan dalam kurun waktu setengah jam lebih bukan masalah yang cukup
berarti bagi saya. Sudah
terbiasa. Lagian
salah sendiri kenapa tidak membawa mantel.
Namun kali itu saya sedang membawa beberapa diktat dan fotokopian slide
penting. Bisa bayangin kan kalau semuanya itu basah? Habis harta saya.
Saya memutuskan untuk menunggu sampai reda. Mungkin nanti setelah hujan deras
berubah menjadi gerimis kecil, saya akan mencoba menggas motor lalu melaju
dengan mantap. Jaket, masker, helm dan headset sudah terpasang ditempat yang
seharusnya. Tinggal menunggu hujan berdamai saja sekarang.
Tadi, sekitar sepuluh menit yang lalu saya menyaksikan sebuah cerita. Sebut
saja cerita yang sejujurnya sangat saya rindukan. Cerita hujan.
Seorang wanita berjilbab hitam, menggendong ransel lumayan besar. Dia kira-kira
berumur duapuluh-an, berdiri tak jauh dari saya. Didepannya ada seorang pria
berjaket hitam, menggunakan helm yang senada dengan warna jaketnya. Saya tebak,
mereka pasti sama seperti saya, menunggu hujan.
Kemudian pria itu mengeluarkan
sebuah plastik hijau bening semacam mantel instan. Lalu memasangkan mantel itu
ke tubuh si wanita tanpa ragu, sambil sesekali membelai kepala wanita itu
lembut. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan, suara hujan dan headset
ditelinga berhasil membuat saya tuli dengan suara sekitar. Yang dapat saya lihat
hanyalah ekspresi bahagia dari wanita itu. Terlihat sangat jelas. Dan saya
yakin, pria itu pun sama bahagianya dengan si wanita atau mungkin lebih
bahagia. Saya tetap dia ditempat, menyaksikan.
Kemudian pria itu naik keatas
motor yang beberapa detik kemudian disusul oleh si wanita. Sampai mereka tak
terlihat lagi di area parkiran, saya terus memperhatikan lalu kemudian
tiba-tiba menyadari bahwa saya benar-benar sendiri.
Hari itu saya menghabiskan waktu kurang lebih empat jam di Medan Fair,
sendirian. Saya benar-benar bahagia dengan itu, sebelum saya melihat adegan di
parkiran. Belum lagi playlist dihandphone saya tiba-tiba ter-shuffle lagunya Weslife - Story Of Love, seolah-olah
handphone saya ikut mendukung cerita manis tadi.
Saya membatin, mungkin sudah seharusnya saya menggenggam hati lain lagi. Dan
mungkin saja saya bisa menciptakan cerita yang lebih manis dari cerita mereka.
Tapi bukankah tidak baik jatuh cinta saat kau merasa sangat sepi? Saya jadi
bingung.
Hati saya masih belum siap untuk diberikan kepada orang lain lagi, tapi disatu
sisi saya merasa membutuhkan hati yang dapat memeluk saya disaat hujan sedang
deras-desarnya .
Hujan, aku boleh bertanya kan?
Menurut mu aku harus bagaimana? Haruskah aku menggenggam hati yang lain lagi atau aku akan menggenggamnya saat aku sudah benar-benar siap?
Menurut mu aku harus bagaimana? Haruskah aku menggenggam hati yang lain lagi atau aku akan menggenggamnya saat aku sudah benar-benar siap?
Medan, 21 September 2012
Parkiran Plaza Medan Fair, Jl Gatot Subroto Medan






0 comments